WORKSHOP APLIKASI MIKSROSKOP DAN PERAWATAN

WORKSHOP APLIKASI MIKSROSKOP DAN PERAWATAN

Mikrosksop berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari micros; kecil & scopein ;melihat

Mikroskop adalah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dapat dilihat secara kasat mata.Mikroskop adalah alat bantu di setiap laboratorium yang berfungsi untuk mengamati organisme  yang berukuran kecil (mikroskopis).

Pertama kali mikroskop di temukan pada tahun 1590 oleh ahli optic dari Belanda, Hansdan Zacharias Jansen. Pada tahun 1665, Robert Hooke ilmuan Inggris membuat mikroskop sendiri dan mengamati sel tumbuhan, yang kemudian dinamakan “micrographia”.

Berdasarkan fungsinya, mikroskop dibagi menjadi 2 type :

  1. Biological, mikroskop ini berfungsi untuk mengamati objek yang dapat di tembus cahaya, seperti potongan jaringan, sel, bacteri dll
  2. Metalurgi, mikroskop ini berfungsi untuk pengamatan objek yang tidak dapat di tembus oleh cahaya, seperti permukaan metal, semikonduktor, mineral dll.

Mengingat begitu pentingnya peran mikroskop dalam lingkungan kesehatan khususnya, BTKLPP Kelas I Batam mengundang Pranatalaboratorium yang terkait di Instansi Pemerintah maupun Swasta baik Rumah sakit, Klinik,Puskesmas, KKP yang berada di Kepulauan Riau. Untuk menghadiri Workshop Aplikasi Mikroskop dan Perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petugas laboratorium dan entomolog, tidak hanya dalam penggunaan mikroskop yang baik dan benar tetapi di harapkan peserta mampu melakukan perawatan dan maintenance  mikroskop sendiri sehingga kualitas mikroskop dapat tetap terjaga.

Peserta yang hadir cukup banyak, dari target yang di harapkan 25 peserta menjadi 50 peserta hal ini menunjukkan bahwa, kegiatan ini dianggap penting. Tidak hanya mikroskop yang canggih tetapi petugas juga harus cakap dan handal dalam menggunakan mikroskop dan melakukan perawatan. Sehingga penentuan diagnose suatu penyakit dapat di tegakkan dan dipertanggung jawabkan.

04Des/17

Kajian Faktor Risiko dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit TB Tahun 2017

Kegiatan Kajian Faktor Risiko dalam Pencegahan dan Pengendalian TB yang dilakukan BTKL PP Kelas I Batam bertujuan untuk:

  • Penemuan kasus TB di tempat- tempat yang memiliki risiko penularan TB yang tinggi.
  • Mengetahui pengetahuan respon den terhadap penyakit TB, penularan, dan pencegahannya
  • Mengetahui sikap dan perilaku responden saat batuk
  • Mengetahui kepadatan hunian di tempat-tempat yang berisiko penularan TB

Kegiatan kajian dilakukan di 5 lokasi di kota Batam, dimana kegiatan ini diarahkan pada tempat- tempat yang memiliki resiko tinggi untuk penularan penyakit seperti pondokan pesantren , Lapas dan Rutan. Karena biasanya jumlah hunian yang padat dan kondisi hunian yang kurang memenuhi syarat untuk hunian sehat.

Hasil kegiatan yang dilaksanakan adalah :

1. Lokasi Pesantren Hidayatullah

Objek kajian yang dijadikan sebagai responden pada pesantren ini berjumlah 30 orang anak siswa yang tinggal di pondokan pesantren, yang sering mengalami batuk.  Hasil pemeriksaan Sputum Pagi dan Sewaktu terhadap 30 orang responden diperoleh hasil semua negatif(-).

2. Lokasi Pesantren MAN Insan Cendekia

Objek kajian yang dijadikan sebagai responden pada pesantren ini berjumlah 30 orang anak siswa yang tinggal di pondokan pesantren, yang sering mengalami batuk. .  Hasil pemeriksaan Sputum Pagi dan Sewaktu terhadap 30 orang responden diperoleh hasil semua negatif(-).

 

3. Lokasi Lembaga Permasyarakatan Khusus Anak & Wanita Kelas II B Batam

Objek kajian yang dijadikan sebagai responden pada pesantren ini berjumlah 30 orang yang terdiri dari 15 warga binaan Lapas Khusus Anak dan 15 orang warga binaan Lapas Wanita. Dari 30 responden yang diperiksa sputumnya didapat hasil semua negatif (-).

 

4. Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Batam di Wilayah puskesmas Sei Langkai

Objek kajian yang dijadikan sebagai responden pada Lapas kelas II A Batam merupakan suspekTB. Dari 80 responden yang diperiksa sputumnya hasil 7 positif (+).

 

 

5. Rumah Tahanan Kelas II A Batam di Wilayah puskesmas Sei Langkai

Objek kajian yang dijadikan sebagai responden pada Lapas kelas II A Batam merupakan suspekTB dan yang menderita HIV. Dari 20 responden yang diperiksa diperoleh hasil 2 sampel terdeteksi TB.

 

Dari Hasil pemeriksaan untuk yang positif dilakukan pengobatan dan dilakukan surveilans ketat kasus agar tidak terjadi peningkatan kasus, dikarenakan kondisi lapas/rutan yang jumlah warga binaan yang sudah melebihi kapasitas huniannya.

26Okt/17

Kegiatan Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian Filariasis dan Kecacingan Di Kabupaten Natuna

Dalam mendukung Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit secara Nasional, BTKLPP Kelas I Batam melaksanakan Kegiatan Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian Filariasis dan Kecacingan di wilayah layanannya. Kegiatan Kegiatan Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian

Filariasis dan Kecacingan di laksanakan di Kabupaten Natuna yang merupakan salah satu pulau terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 16 s.d 21 Oktober 2017.

 

Kegiatan ini bekerjsama dan bekoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna, Puskesmas dan Sekolah Dasar/Sederajat yang dilibatkan pada kegiatan ini.

 

Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian Filariasis dan Kecacingan di Kabupaten Natuna ditemukan 19 sampel Positif dengan 3 jenis nematode usus  (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing Tambang) dari 353 sampel tinja dan diperiksa oleh TIM Filca (Filariasis dan Kecacingan) BTKLPP Kelas I Batam di 34 Sekolah Dasar/Sederajat pada kelas 3, 4 dan 5.

Grafik 1.Hasil Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian Filariasis dan Kecacingan di SD/Sederajat Kabupaten Natuna

 

 

 

Grafik 2. Jumlah Sampel Positif Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa SD/Sederajat

 

 

 

Grafik 3. Jumlah Sampel Positif Berdasarkan Jenis Nematode Usus

 

 

Telur Cacing Ascaris lumbricoides

Telur Cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris Trchiura

 

17Okt/17

Koordinasi Lintas Sektor di Natuna, Kepulauan Riau

Nama Kegiatan :Survey Pendahuluan Kajian Faktor Risiko Pencegahan dan Pengendalian Filariasis dan Kecacingan

 

Waktu Pelaksanaan :Tanggal 11 s.d 13 Oktober 2017

Lokasi Kegiatan :Kabupaten Natuna

Nama Tim :Kepala Balai, Ka SubBag TU, Kasi SE dan Kasi ADKL

Pelaksanaan Kegiatan :

  • Dalam peningkatan pencegahan dan pengendalian filariasis dan kecacingan secara nasional, BTKLPP Batam diharapkan mampu mendukung pemerintah daerah kabupaten/kota di wilayah layanan agar program tersebut berhasil dalam skala nasional. Pada tahun 2017 ini, BTKLPP Batam melaksanakan program tersebut di Kabupaten Natuna yang merupakan salah satu kabupaten yang merupakan layanan BTKLPP Batam sesuai dengan petunjuk dari Ditjen P2P dan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna
  • Pada kegiatan survey pendahuluan kajian faktor risiko pencegahan dan pengendalian filariasis dan kecacingan ini, Bapak Kepala BTKLPP Batam beserta pejabat administrasi lainnya (Kasub.Bag TU, Kasi SE dan Kasi ADKL) berkesempatan mengikuti kegiatan ini dalam rangka koordinasi pelaksanaan kegiatan nantinya dan bersilaturrahim ke 3 instansi pemerintah daerah Kabupaten Natuna (Dinas Kesehatan; RSUD; dan Dinas Lingkungan Hidup)
  • Pada koordinasi dan silaturrahim BTKLPP Batam dengan Dinas Kesehatan dilakukan koordinasi mengenai mekanisme pelaksanaan kegiatan kajian faktor risiko pencegahan dan pengendalian filariasis dan kecacingan yang akan dilaksanakan di 310 Sekolah Dasar dan 5 Sekolah Dasar sebagai cadangan yang akan melibatkan para murid kelas 4 s/d 6. Disampaikan juga oleh Dinas Kesehatan informasi mengenai 3 orang positif TB-MDR dan Kabupaten Natuna akan dilakukan program ketuk pintu untuk malaria pada tahun 2018 serta ucapan terima kasih BTKLPP Batam kepada Dinas Kesehatan untuk kepercayaannya dalam pengujian kualitas air dari DAM dan lainnya
  • Pada koordinasi dan silaturrahim BTKLPP Batam dengan RSUD dilakukan diskusi mengenai adanya permasalahan parameter mikrobiologi baik Total Coli dan Coli pada air bersih yang melebihi baku mutu dan BTKLPP Batam memberikan solusi dengan melakukan Chlorinasi/ Desinfektan sebelum didistribusikan ke seluruh bagian rumah sakit yang teknisnya diberikan melalui surat rekomendasi. Pada kesempatan ini pula dilakukan koordinasi untuk menjalin kerjasama (MOU) dalam kesepahaman kerjasama dalam peningkatan bidang kesehatan masyarakat
  • Dan pada kesempatan koordinasi dan silaturrahim dengan Dinas Lingkungan Hidup dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama (MOU) dalam bidang pengujian kualitas lingkungan dan keterlibatan BTKLPP Batam pada Komisi AMDAL Kabupaten Natuna

“Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui “, pada bagian akhir kegiatan survey pendahuluan kajian faktor risiko pencegahan dan pengendalian filariasis dan kecacingan, tim BTKLPP Batam berkesempatan menikmati keindahan alam & kuliner khas Kabupaten Natuna yang merupakan salah satu pulau terluar NKRI.

10Okt/17

FILARIASIS

Peran BTKLPP Kelas I Batam sebagai supervisor utama (Kepala Pengawas) dalam pelaksanaan pre-TAS (Transmission Assessment SUrvey) Filariasis di 7 Kabupaten/Kota di dua Provinsi. Supervisor utama berperan sebagai penanggung jawab kendali mutu terhadap seluruh rangkaian kegiatan survey dan memastikan bahwa seluruh kegiatan yang berlangsung sesuai dengan standar PERMENKES No 94 tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis.

Untuk Provinsi Riau dilaksanakan di Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Rokan Hilir, Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Kota Dumai. Untuk Provinsi Jambi dilaksanakan di Kabupaten Batanghari

Jumlah sampel yang diambil dari 6 Kabupaten di Provinsi Riau dapat dilihat pada grafik sebagai berikut :

Desa yang dipilih menjadi lokasi survey adalah sebagai berikut :

No Kabupaten Desa Spotcheck Desa Sentinel
1 Bengkalis Bantan Tengah Sungai Alam
2 Indragiri Hulu Bongkal Malang Kota Lama
3 Kampar Pulau Lawas Hidup Baru
4 Kep. Meranti Alai Renak Dungun
5 Rokan Hilir Teluk Bano I Labuhan Tangga Kecil
6 Siak Harapan Dosan

Keterangan : Desa  Spotcheck dapat berubah-ubah pada saat survey dengan kriteria ada kasus kronis, dan cakupan POPM <65%, Desa sentinel (tidak dapat diubah) adalah desa yang pada saat pemetaan dengan MF Rate >1 %. Dari 6 Kabupaten yang dilakukan PRE-TAS (Transmission Assessment Survey) di Provinsi Riau tidak ditemukan hasil positif mikrofilaria.

Pada Provinsi Jambi dilaksanakan di Kabupaten Batanghari, dengan lokasi desa sentinel yaitu Desa Jembatan Emas dengan jumlah sample 311 dan Desa Muara Langga sebagai desa spotcheck 313 sample. Hasil pemeriksaan ditemukan positif mikrofilaria sebanyak 3 sample di Desa Sentinel dan  2 sample positif di desa spotcheck. Atas hasil yang positif ini BTKLPP Kelas I Batam mengirimkan sample positif tersebut ke Subdit Filariasis Ditjen P2P untuk dilakukan crosscheck. Hasil pemeriksaan crosscheck tadi nantinya akan menjadi rujukan apakah Kabupaten Batanghari sukses melakukan POPM (Pemberian Obat Pengobatan Masal) Filariasis dan lanjut pada pelaksanaan TAS 1 atau sebaliknya gagal dan harus mengulang POPM selama 2 tahun.

Berikut kami sampaikan sebagian foto kegiatan PRETAS Filariasis

Kegiatan PRETAS di Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada 7-9 Agustus 2017. Sebelum pelaksanaan kegiatan pengambilan sample darah jari pada masyarakat, supervisor utama memberikan pembekalan On the Job Training kepada para petugas daerah dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir dan Puskesmas Kec. Bangko dan Bangko Kanan.

Petugas BTKLPP Kelas I Batam (berbaju biru memakai kerudung biru muda) sedang melakukan pengawasan kegiatan pengambilan sediaan darah jari malam yang dilakukan oleh Petugas daerah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir dan Puskesmas Kec. Bangko. Pengawasan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan yang berlangsung sesuai dengan standar PERMENKES No 94 tahun 2014 dan terjamin mutu dari sediaan darah jari. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 di Aula Desa Teluk Bano I, Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir.

Melanjutkan kegiatan pengawasan preTAS Filariasis di Kabupaten Rokan Hilir, gambar diatas menunjukkan petugas BTKLPP Kelas I Batam selaku Supervisor utama memastikan jumlah sediaan dan identitas kode sediaan telah sesuai dengan form registrasi sample.

 

Hasil pewarnaan sediaan darah jari untuk pemeriksaan mikroskopis filaria yang merupakan golden standard dalam penentuan hasil diagnosis filaria.

 

04Okt/17

Kunjungan Staff Ahli Menteri Kesehatan RI

Hari Selasa tanggal 03 Oktober 2017 BTKLPP Kelas I Batam kedatangan staff ahli Menteri Kesehatan RI, dr. Pattiselano Roberth Johan,MARS yang biasa disapa Pak Roby.

Pak Roby mengapresiasi BTKLPP Kelas I Batam baik dari segi sarana prasarana gedung kantor, fasilitas laboratorium dan SDM, yang menurut beliau terbaik se-10 BTKL. dan beliau juga mengarahkan agar pegawai dengan masing-masing jabatan agar selalu siap menjalankan tugas dan mengembangkan kompetensi yang sudah ada menjadi lebih luas lagi. Consern dengan peran balai yg berada dilingkup P2P. CPNS rekrutan 2014 agar dapat menyesuaikan diri dan kerjasama dalam memahami tupoksi pekerjaan di BTKL. Jika perlu tambah ilmu dengan pelatihan – pelatihan yang mendukung tupoksi. Maksimalkan SDM SDA dan  peralatan yg sudah ada dan sudah baik ini agar dapat mendukung program – program kesehatan lingkungan dan pencegahan  penyakit tutupnya.

29Sep/17

Memperingati Tahun Baru Islam (Hijriah)

 

Dalam rangka memperingati  tahun baru Hijriah dan menyambut hari Asyura 10 Muharam disunahkan untuk menyantuni anak yatim piatu. maka dari itu Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam Mengundang anak-anak dari Panti Asuhan Uswatun Hasanah yang kebetulan berada di sekitar BTKLPP Kelas I Batam, acara berlangsung dengan hikmat dan tengah-tengah acara ada juga tanya jawab antara para pegawai BTKLPP Kelas I Batam dengan Ustadz yang mengisi Tauziah. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Kepala BTKLPP yaitu Bapak Slamet Mulsiswanto beserta jajaran pegawai BTKLPP Kelas I Batam dan diisi Tauziah oleh Ustadz H. Haruna Hasyim Lc.